Wednesday, March 12, 2008

Juragan Ayam Potong

Dengan keuletannya, Tujo Hadi Sumarto merambah dari pengumpul ayam menjadi pengusaha besar ayam potong yang sukses.
Terik matahari menyengat kulit. Namun, di depan deretan toko di Jalan Godean Km. 7,5, Yogyakarta, kesibukan beberapa pria mengangkati kantong pakan ternak ke atas sebuah mobil pikap tak menyurut. Di antara mereka terlihat seorang lelaki setengah baya yang ikut bermandi keringat membawa zak-zak itu sambil menghitung tumpukan yang sudah berada di atas mobil, siap dikirim ke para pembeli.
Mengenakan kaus oblong, celana panjang, dan sandal kulit imitasi, ia tak berbeda dengan para pengangkut lainnya. Suaranyalah yang membedakan. Dengan tegas ia mengomandani aktivitas di siang itu. Dialah Tujo Hadi Sumarto, 50 tahun, satu dari pengusaha besar perdagangan ayam potong dan pakan ternak di Jogyakarta.
Setiap hari, Tujo, yang lebih dikenal dengan nama kecilnya Paidi, bisa menjual 25 hingga 30 ton ayam potong ke Jakarta, Bogor, dan beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk menunjang usahanya, ia memiliki 20 truk besar dan Colt pikap, serta 10 buah sepeda motor. Tersedia pula gudang seluas 4.000 meter persegi dan tiga lokasi kandang dengan kapasitas sekitar 4.000 ekor ayam. “Untuk melanyani pembeli di sekitar sini,” ujarnya.
Uang yang berputar dalam bisnis ayam potong itu ditaksir rata-rata mencapai Rp. 200 juta per hari. Dari ayam ini, Tujo telah memetik hasilnya: dua rumah besar jadi tempatknya berteduh — salah satunya yang bernilai Rp. 850 juta baru dibangun di atas tanah seluas 550 meter persegi. Mau ke mana-mana ia tinggal menstater tiga mobil menterengnya, dua buah Baby Benz dan satu buah BMW.
Cerita Paidi bukanlah kisah Cinderella. Keberhasilan pengusaha ini bisa ditiru siapa pun yang punya tekad sekuat Tujo. Hanya lulusan sekolah rakyat (setingkat sekolah dasar), lelaki ini membangun bata demi bata istananya dengan sikapnya yang menghalalkan kerja keras, tekun dan berhemat selama bertahun-tahun.
Mewarisi bakat dagang dari ayahnya, mula-mula Paidi sekadar membantu menjual ayam potong milik ayahnya. Pada 1969, ia memulai bisnis sendiri sebagi pedagang ayam keliling. Berbekal sedikit uang dari ayahnya dan sebuah sepeda onthel dengan keranjang di belakangnya, ia keluar-masuk kampung mengumpulkan ayam dan menjualnya ke pasar-pasar di sekitar Wates, Nanggulan, Godean, Muntilan, hingga Jogjakarta.
Untuk menjual 70 ekor ayam kampung hidup, Paidi harus menggenjot sepedanya kadang sampai 35 kilometer. Ia tak berkeluh kesar. “bagaimana lagi, saya harus menjalani pekerjaan itu dengan telaten. Mau melanjutkan sekolah, orang tua tidak mampu, jadi saya mengikuti jejak orang tua berjualan ayam,” tuturnya.
Genjotan onthel-nya mengalirkan rezeki. Dalam tempo 10 tahun, sepedanya bisa pensiun karena digantikan sebuah mobil Colt pikap. Jangkauan pemasarannya jelas membesar hingga ke pelosok desa di sekitar Jogjakarta. Jumlah ayam yang dijualnya meningkat hingga sekitar 500 ekor ayam kampung setiap hari.
Pada saat marak usaha peternakan ayam potong, ayah tiga orang itu memberanikan diri menjadi peternak. Itu dilakukannya pada 1990. Dua tahun kemudian, seiring dengan makin sulitnya mencari ayam kampung, dagangannya dialihkan menjadi ayam negeri. Jogjakarta dianggapnya tak lagi cukup besar, maka luar daerah pun dibanjirinya dengan ayam potong yang disebar memakai truk sewaan. Hanya beberapa tahun ia menyewa, setelah itu Paidi memakai Colt L-300 pikap yang dibelinya sendiri.
Sikap wiraswasta teruji di kala krisis ekonomi mendera. Saat itu, ada peternak yang mengelola 80 ribu ayam potong yang bangkrut karena tingginya harga pakan ayam. Paidi mengambilalihnya. Truknya dijual untuk tambahan modal. Perhitunganya terbukti tepat. Ketika itu, lantaran banyak pedagang dan peternak jatuh bangkrut, pasokan ayam otomatis menurun drastis sehingga harganya melambung tinggi. Tujo pun menuai untuk melimpah.
Keberhasilan Paidi meniti buih pada saat terhadi krisis moneter tak lepas dari sikapnya yang hemat dan berhati-hati. Ia tak pernah hanya terbawa arus kebiasaan meminjam uang di bank atau membeli barang dengan sistem kredit. Dengan merendah, ia mengaku sebagai orang yang penakut. “Kalau pemberani, mungkin sudah sukses dari dulu karena belum banyak pedagang sehingga saingannya sedikit,” katanya.
Namun, sikap penakutnya itu justru menolongnya karena membuat ia tak teherat utang selama masa krisis, sementara pedagang lain jatuh karena utang menumpuk. “Saya tidak suka kredit. Membeli mobil pun saya lakukan secara kontan. Kalaupun terpaksa kredit benar-benar saya perhitungkan jangan sampai nantinya tidak mampu membayar,” paparnya panjang lebar. Selama berbisnis, Paidi tercatat baru sekali meminjam uang, yaitu dari PT. Sarana Jogja Ventura. Bantuan pembiayaan Rp. 200 juta itu diterimanya setahun lalu untuk menyelesaikan pembangunan rumah.
Ada lagi beberapa sifat Paidi yang cocok dengan iklim usaha yang dijalaninya. Ia, misalnya sangat menjunjung kejujuran dan menjaga kepercayaan orang. Hasilnya? Dengan bangga ia menuturkan bisa gampang berjual-beli hanya dengan menggunakan telpon. “Kadang, kalau mengambil ayam, saya hanya menyuruh sopir dengan membawa memo atau DO (delivery order), mereka sudah percaya,” katanya. Kemudian ayam-ayam itu langsung dikirim lagi ke pedagang yang memesan. Tentu, tak semua kliennya seperti dirinya. Sekali it pernah kena getok. Suatu ketika ia mendapat pesanan satu truk telur ayam senilai Rp. 18 juta. Barang langsung dikirim, tapi pembayaran tak kunjung sampai hingga kini.
Satu lagi sifatnya yang susah-susah gampang untuk ditiru adalah tidak kemaruk. Ia tetap menjalani hidup sederhana, tak ada secuil kemewahan pun di tempat kerjanya di Jalan Godean, yang hanya berupa lima unit toko seluas 4 kali 3 meter. Satu ruangan digunakan untuk kantor dan yang lain menjadi gudang sekaligus toko pakan ternak yang dinamainya “Wawan Poultry Shop”, mengambil nama salah seorang anaknya.
Di sana cuma ada sebuah meja tulis tua dilapisi kaca yang pojoknya sudah pecah, tiga kursi lipat, dua kursi kayu dan dua bangku panjang. Di sisi lain ruangan itu terlihat sebuah lemari dokumen besi bersusun empat dan sebuah kulkas. “Saya tidak senang dipuji, karena itu saya tidak mau mengubah penampilan. Sejak dulu yang begini, punya atau tidak punya, ya seadanya dan biasa saja,” ceritanya
Tak cuma hubungannya dengan pelanggan yang harus dipelihara, tapi juga mitra kerja dan kesejahteraan para karyawannya. Sebanyak 40 orang karyawannya loyal kepadanya karena mendapat gaji dan fasilitas yang cukup. Bonus dan piknik bersama selalu menunggu mereka di setiap akhir tahun. Seperti tahun ini, ramai-ramai mereka piknik ke Jawa Timur memakai dua bus.
Dengan modal ketekunan, kejujuran, dan sikap hemat itulah Paidi menyongsong masa depan bisnis ayam potong yang menurut dia kini agak lesu. Apalagi pedagang semakin banyak sehingga tingkat persaingan makin tinggi. Kendati begitu, ia mengaku tidak mengalami penurunan omzet, tapi selama setahun terakhir sulit meningkatkan omzet. Pada tahun depan, dengan diberlakukannya perdagangan bebas dan penetapan harga standar, persaingan tentu akan semakin ketat.
“Pada saat itu, kualitas harus menjadi modal utama kami, dan servis kepada pelanggan menjadi sangat penting,” kata Paidi dengan gaya bicara yang tenang. Dan, ia beruntung sudah mengantongi modal hubungan baik yang selalu terpelihara dengan para pedagang dan peternak yang menjadi mitra kerjanya. “Saya berdagang selalu menggunakan ini (menunjuk ke dada). Jadi, bagi saya, pembeli, berapa pun dia membeli, saya perlakukan sama karena pembeli adalah raja. Selain itu, ramah-tamah tidak boleh ditinggalkan,” katanya sambil tersenyum. Sikap ramah-tamah dan bersahabat itu, tuturnya, penting untuk menjaga tali persaudaraan. Kalau sudah begitu, menurut dia, pelanggan akan sungkan lari ke tempat lain. Nugroho Dewanto, L.N. Idayanie (Yogyakarta)

Saturday, March 08, 2008

Pangalengan, Contoh Kawasan Berbasis Pertanian Terpadu

Peternakan Sapi Perah Pangalengan

Pangalengan merupakan daerah di selatan Bandung yang memiliki iklim yang sejuk dan tenang. Udaranya sangat dingin. Masyarakatnya sangat ramah dan bersahaja. sungguh kota yang tenang dan damai. Para warganya sebagian besar berusaha di bidang peternakan, pertanian, dan pengolahan. Banyak warga yang memiliki ternak sapi perah. Sapi perah di Pangalengan sudah ada semenjak zaman pemerintahan Belanda. Hingga kini masih terus dipertahankan, dan saat ini pengelolaan dari usaha peternakan rakyat tersebut dikendalikan oleh KPBS, Koperasi Peternak Bandung Selatan. Setiap pagi aktivitas masyarakatnya memerah susu untuk kemudian dikumpulkan melalui truk-truk tangki milik KPBS. Begitu juga saat sore hari, warga berbondong-bondong membawa milk can yang berisi susu sapi segar dari kandang ternaknya.
Selain memerah susu sapi, kegiatan lain warga pangalengan adalah pengolahan susu menjadi produk baru yang memiliki daya tahan yang cukup lama, misalnya dari susu sapi segar tersebut dibuat karamel (sejenis permen), dodol susu, kerupuk susu, dan yoghurt. Beberapa peternak yang mengolah susu sapi menjadi produk makanan terbilang sukses. Bahkan mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Begitu pun dengan lahan pertaniannya yang subur makmur. Beberapa komoditas yang diandalkan dari lahan pertanian di Pangalengan adalah kentang kualitas ekspor, kubis, kol, dan macam-macam jenis sayuran yang setiap hari memenuhi pasar-pasar besar di kabupaten bandung hingga Jakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kenyataan di atas membuktikan bahwa, pertanian dan peternakan merupakan bidang yang layak diprioritaskan dalam pembangunan masyarakat desa guna mencapai kemakmuran. Pertanian-peternakan merupakan satu kesatuan yang sinergis jika dikembangkan secara profesional.
to be continued....

Friday, March 07, 2008

My Dream

Peternakan Terpadu

Alangkah senangnya ketika berada di peternakan sapi. Bagi sebagian orang mungkin merasa jijik dekat-dekat kandang ternak. Tapi, saya sungguh sangat menikmati saat-saat berkunjung ke peternakan. Kapan ya saya memiliki peternakan sendiri? dengan jumlah sapi yang banyak sekali. Rasanya, bau kotoran ternak yang menyatu dengan hembusan angin dari ladang merupakan terapi bagi saya, karena sungguh sangat damai dan serasa berada pada tempat yang jauh dari keramaian. 

Mungkin bagi orang bau tersebut sangat mengganggu, tapi bagi saya sendiri bau tersebut selalu dirindu.Hehe...asal jangan bau amoniak sama H2S-nya saja yang tercium mentah-mentah, bisa kelenger. :D

Saya heran, kenapa peternakan di Indonesia belum maju seperti di negara lainnya, misalnya Amerika ataupun Australia. Semakin heran lagi, sarjana-sarjana lulusan Fakultas Peternakan kesulitan mendapatkan pekerjaan, karena terbatasnya lapangan kerja yang ditawarkan. Seharusnya sarjana peternakan merupakan aset yang sangat berharga. Bukan sarjana tambang atau minyak yang berjaya dengan gaji WAH. :P. 

Kembali lagi ke peternakan sapi, sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Banyak pengusaha-pengusaha muda yang bergelut dengan dunia peternakan menuai kesuksesan yang luar biasa. 

Tapi itu yang punya modal, Namun, sangat disayangkan, animo masyarakat untuk ber-investasi pada bidang pertanian/peternakan relatif minim sekali. Masyarakat lebih suka menyimpan uangnya pada sektor-sektor yang cepat menghasilkan uang dengan tingkat return yang sangat tinggi(meski resiko juga tinggi), pasar modal misalnya. 

Padahal, banyak juga rekan-rekan saya yang harus merasakan kekecewaan mendalam akibat kerugian pada sektor tersebut. Bayangkan saja, puluhan milyar dana amblas kurang dari satu tahun. Ah, seandainya saja uang sebesar itu dibelikan sapi..dapat berapa ya? dan jika 50% sapi yang dibeli dari uang tersebut bunting dan melahirkan, tentu akan lebih besar lagi jumlahnya. Belum lagi berapa orang yang akan terlibat pada usaha tersebut. Saya cuma berandai-andai, misalnya para investor tersebut membuka peternakan di daerah-daerah tertinggal, dimana ketersediaan lahan dan pakan masih sangat besar, dan dipasarkan ke luar negeri berupa daging olahan, sudah barang tentu masyarakat kita akan semakin berkembang. Secara tidak langsung hal tersebut akan merangsang tumbuhnya industri-industri baru berbasis peternakan.Desa mengepung kota, rasanya harus diterapkan guna memeratakan pembangunan di Indonesia tercinta ini. 

Kabupaten Garut dapat dijadikan contoh, selain sayuran dan jeruknya yang terkenal itu, Garut memiliki beberapa kawasan dengan basis peternakan sapi perah, domba Garut, dan lain-lain. Di dekat kota Garut, daerah Sukaregang banyak terdapat industri-industri rumah tangga yang mengolah kulit sapi menjadi komoditas berkualitas ekspor. Mulai dari sepatu kulit, jaket kulit, tas, dompet, dan lain-lain industri berbahan baku kulit. Bahkan salah satu industri, milik H. Ate memiliki pabrik pengolahan kulit dimana hasil produksinya diekspor guna memenuhi permintaan pabrik-pabrik pembuatan mobil mewah di Eropa dan Korea. 

Bayangkan seandainya saja seluruh daerah di Indonesia memiliki kekuatan agribisnis pertanian maupun peternakan yang kuat dan kokoh tentunya Bangsa kita dapat berdiri dengan bangga di atas kaki sendiri, tanpa meng-exploitasi sumber-sumber alam yang dapat merusak lingkungan. Kita beli saja minyak dari arab, batu-bara dari Brazil, pokoknya semua jenis sumber daya alam yang tidak dapat terbarukan dibeli dari luar. Biar Bangsa kita utuh, bersih, alami, dan selalu indah...

Tapi, rupanya saya bermimpi, hampir semua wilayah yang mengandung emas hitam dan emas putih diexploitasi sebesar-besarnya untuk para kapitalis, sehingga Indonesia sengsara dilanda banjir, lumpur lapindo, kerusakan lingkungan hampir di seluruh kawasan Indonesia. Ah, seandainya saja ladang-ladang kita penuh dengan tanaman pangan dan sayuran, penuh dengan ternak-ternak produktif, tentu bencana alam enggan berkunjung untuk merusaknya karena Indonesia begitu indah.

Lagi-lagi, bau sapi dan ladang sangat damai dan selalu dirindu...

Moooooo ....


Thursday, March 06, 2008

Pertanian terpadu

Integrasi Peternakan dengan lahan Pertanian
Salah satu upaya untuk mewujudkan pengembangan ekonomi daerah tertinggal yakni dengan cara pembangunan kawasan produksi berbasis komoditas unggulan. Peternakan sapi potong dapat menjadi salah satu komoditas unggulan yang layak dikembangkan guna meningkatkan pendapatan masyarakat daerah tertinggal.
Selama ini, sebagian besar pola peternakan sapi potong rakyat masih menggunakan pola tradisional dan belum tersentuh inovasi teknologi tepat guna. Masyarakat masih menganggap ternak sapi hanya sebagai alat bantu dalam pengolahan lahan pertanian. Cara beternak yang masih individual dengan pola pemeliharaan di dekat rumah tinggal dan pemberian pakan seadanya mengakibatkan populasi ternak dan produktifitasnya relatif kurang berkembang. Pola pemeliharaan ternak sapi potong rakyat selama ini perlu diubah guna mempercepat peningkatan produktifitasnya.
Pertanian organik terpadu berbasis peternakan terbukti sangat menguntungkan. Integrasi ternak dengan lahan pertanian merupakan upaya percepatan pengembangan peternakan dengan penerapan keterpaduan antar komoditas ternak dengan usaha tanaman pangan, perkebunan dan perikanan yang saling menguntungkan berupa limbah usaha tanaman pangan, perkebunan dan perikanan yang digunakan sebagai pakan ternak untuk ternak dan kotoran ternak dalam bentuk kompos yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian.
Kegiatan pertanian terpadu membutuhkan bahan organik dalam jumlah banyak. Dari kegiatan penggemukan sapi potong dapat dihasilkan bahan organik berupa pupuk kandang dan pupuk cair. Sebagai gambaran, dari 3 ekor sapi dapat dihasilkan kotoran yang dapat dipakai untuk memupuk 5 Ha sawah per tahun. Selain itu, dengan teknologi sederhana kotoran ternak dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif menjadi biogas. Pada beberapa peternakan sapi rakyat di Pangalengan pemanfaatan kotoran ternak sudah digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Peternakan Sapi Perah

Teknologi Formulasi Pakan Alternatif Untuk Sapi Laktasi

Oleh:
Subiharta, Ulin Nuschati, Ernawati dan Budi Utomo

Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha peternakan
sapi perah, karena pemberian pakan yang kurang cukup kandungan
nutrisinya dapat berpengaruh terhadap reproduksi maupun produksi susu
sapi perah. Kebutuhan TDN dan protein sapi perah laktasi masing-masing
antara 65-78% dan 15-18%, sementara hasil penelitian di wilayah
Boyolali menunjukkan bahwa kandungan protein pakan konsentrat sapi
perah hanya 8,91 % dengan TDN 65%. Hal ini mengakibatkan produksi dan
produktivitas sapi perah tidak optimal. Untuk memperbaiki hal tersebut
pada tahun 2000 BPTP Jawa Tengah telah menghasilkan kajian formula
pakan sapi perah laktasi yang diharapkan dapat bermanfaat dalam
peningkatan produksi dan produktivitas susu sapi perah.

Rekomendasi Teknologi
1.Jenis ternak
Induk Sapi Perah PFH (Peranakan Fries Holstein) sedang laktasi
2.Pakan hijauan
Rumput raja segar, jumlah pemberian 10% bobot
3.Pakan tambahan

Formula Konsentrat BPTP Jawa Tengah
- Konsentrat petani (KUD)43,75%
- Koro Benguk18,75%
- Pollar18,75%
- Bungkil Kopra18,75%
- Kandungan Protein Kasar15,26%
- Total Digestible Nutrient89,00%
- Ca dan P1,00%

Waktu pemberian pakan pagi dan siang dengan jumlah pemberian 40-50%
dari total ransum (konsentrat dan hijauan) berdasarkan produksi susu
dan bobot badan. Waktu pemberian pada saat sapi sedang diperah sehingga
sapi tidak bergerak-gerak atau dalam keadaan tenang
4.Air minum
Air minum diberikan secara adlibitum (secukupnya)
5.Keragaan hasil
Produksi susu rata-rata mencapai 14,06
liter/ekor/hari lebih tinggi dibandingkan pola petani yaitu 11,20
liter/ekor/hari atau meningkat 2,8 liter/ekor/hari. Kadar lemak pola
introduksi 5,08 dan pola petani 4,8. Berat Jenis (BJ) pola introduksi
dan pola petani sama yaitu 1,023.

Analisis Finansial
Hasil analisis finansial perbaikan pakan konsentrat untuk induk laktasi
dapat meningkatkan pendapatan sebesar Rp. 1.502.395/tahun/4 ekor atau
naik 80,5%

Wilayah Rekomendasi
Daerah dataran tinggi dengan ketinggian 700 – 800 dpl atau lebih dan
daerah yang populasi sapi perahnya cukup
banyak.

Peluang Usaha Feedlot

Sapi Potong
Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi masyarakat Indonesia, telah dipotong sekitar 1,5 juta ekor sapi lokal untuk menghasilkan kurang lebih 350.000 ton daging sapi yang diproduksi di dalam negeri ditambah dengan mendatangkan sapi bakalan dari Australia tidak kurang dari 350.000 ekor dan impor daging sapi beku sekitar 30.000 ton. Jika saja terjadi peningkatan populasi penduduk 2% per tahun dan populasi sapi di dalam negeri adalah 14% per tahun dengan kemampuan konsumsi daging (sapi) masyarakat hanya naik 1 gram/kapita/hari, di mana kondisi ini pun masih di bawah normal gizi, maka dibutuhkan daging sekitar 1.265,8 ton/hari identik dengan 10.548 ekor sapi yang harus dipotong per hari atau 3,85 juta ekor per tahun. Jika saja 50% penduduk Indonesia tidak mampu membeli daging sapi, artinya sekitar 120 juta orang masih memerlukan dan mampu membeli daging. Pasokan sapi potong domestik yang tidak mencukupi jumlah kebutuhan pasar dalam negeri menyebabkan pasar Indonesia, khususnya pulau jawa dibanjiri oleh Sapi dari Australia. Kenyataan ini tentu sebaiknya merupakan sinyal positip bagi para investor untuk memanfaatkan peluang tersebut..

Tuesday, March 04, 2008

Pupuk Organik

Pupuk Organik

PUPUK ORGANIK - Dari Kompos Cacing Tanah
Oleh: Ir. Lanny Mardin MBA

A. Sejarah Budidaya Cacing Tanah di Indonesia
Pada tahun 1983 ditemukan jenis cacing tanah Lumbricus rubellus di Jayagiri Lembang, Kabupaten Bandung sebanyak 7 ekor dan 5 kokon. • Dari jumlah tersebut berhasil dibudidaya secara laboratories dan berkembang menjadi kurang lebih 5 kg pada talum 1985/1986. • Secara praktis dapat dibudidaya dan dikembangkan oleh masyarakat di pedesaan. • Sekarang, budidaya cacing tanah mulai diminati praktisi praktisi bisnis dengan berbagai tujuan, misal sebagai pengolah limbah, bahan baku sumber protein hewani pakan ternak dan ikan, bahan baku pembuatan kosmetik dan sebagai pakan hewan kesayangan.

B. Potensi Cacing Tanah • Sebagai pengurai bahan organik dalam pengolahan limbah padat. • Sebagai penghasil pupuk organik. • Sebagai bahan baku umber protein hewani (64 - 72%) dan asam amino esensial untuk berbagai peruntukan, antara lain: 1. Bahan baku pembuatan pakan ternak, ikan dan udang 2. Bahan baku pembuatan pangan 3. Bahan baku pembuatan obat - obatan 4. Bahan baku pembuatan kosmetik • Sebagai sarana rekreasi: 1. Mengail ikan 2. Pakan hewan kesayangan (burung, ikan, dsb) 3. Memperindah tanam tanam wisata, karena potensinya sebagai penghasil pupuk organik untuk tanaman.

C. Media organik sebagai tempat hidup cacing tanah (Vermi Compost) • Media sendiri tidak hanya sebagai tempat hidup tapi juga dapat dimanfaatkan sebagai surnber pakan cacing tanah. • Bahan organik yang digunakan untuk pakan cacing tanah mengandung nutrisi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan produksi. • Untuk keperluan media, bahan organik yang akan digunakan harus difermentasikan terlebih dahulu. • Bahan organik yang baik mengandung nutrisi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan produksi. • Untuk keperluan media, bahan organik yang akan digunakan harus difermentasikan terlebih dahulu. • Bahan organik yang baik untuk pembuatan media: 1. Semua limbah ternak, seperti: sapi, kerbau, domba/kambing, kelinci (sisa pakan dan fasesnya) 2. Limbah rumah tangga 3. Limbah pertanian padi, jagung, kacang kacangan, pisang 4, Limbah penggilingan padi, penggergajian

D. Pupuk Organik Padat/cair SEbY G/L 1. SEbY G/L adalah suatu formula baru berupa pupuk organik cair yang dibuat khusus untuk merangsang dan mempercepat pertumbuhan tanaman, pembuangan dan pembuahan. 2. Pupuk ini merupakan campuran dari Vermi Compost (kompos Cacing tanah) dengan bahan senyawa tumbuhan tropis lainnya. 3. Pupuk organik cair SEbY G/L mengandung unsur unsur makro seperti N, P205, K20 dan mikro seperti S, Cl, Fe, Al, Na, Mg, Mn dan Zn. 4. Pupuk ini diproduksi dalam negeri (home industry)

E. Aspek Aspek Ekonomis SEbY G/L
Dibandingkan dengan pupuk organik cair lainnya maka penggunaan SEbY G/L mempunyai nilai tambah sebagai berikut: 1. Cara pemakaian sangat sederhana, dengan jarak pemakaian yang cukup panjang serta ekonomis. Tidak berbahaya bagi kehidupan manusia, hewan ternak maupun unggas. Dapat berfungsi sebagai: • Stimulator, yaitu memberi daya rangsang tumbuh pada tanaman, khusus dalam penyusunan konstelasi perakaran sehingga menunjang dan mempercepat pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan. • Injektor, yaitu dapat menghilangkan kekerdilan, mencegah, penyakit tanaman yang disebabkan oleh interaksi lingkungan, udara dan iklim, misalnya penyakit rontok daun. • Vitalis, yang merupakan fitohormon, sehingga dapat menyuburkan dan menyehatkan serta menambah daya tahan hidup tanaman pacia umumnya. Dari aspek ekonomis yang dimiliki SEbY-G/L, maka produk ini sangat membantu petani - petani kecil yang pada umumnya memilih daya beli rendah, sehingga para petani tidak perlu membeli berbagai macam jenis pupuk, Karena dengan SEbY G/L saja mereka sudah mampu meningkatkan kapasitas produksi tanamannya. Karena itu, SEbY G/L disamping dapat dijadikan salah satu sumber devisa negara, juga merupakan sarana produktif dalam pembangunan Pertanian/Perkebunan/ Kehutanan.

F. Beberapa Manfaat SEbY GIL 1. Dalam waktu maksimum 14 (empat belas) hari, mampu menumbuhkan tunas tunas baru pada tanaman - tanaman yang disemprotkan. 2. Dapat membentuk lapisan lilin pada daun dan mampu juga membentuk zat - zat asli yang terkandung dalam tanaman. (dalam rasa, ukuran dan warna). 3. Mampu merontokkan jamur jamur yang melekat pada batang/ranting tanaman. 4. Mampu men suplai makanan yang diperlukan oleh tanaman, yaitu 90% melalui batang dan daun, sehingga menunjang tercapainya kebutuhan N-fosfo (foliage feeding), sedangkan 10% lainnya melalui akar. 5. Menggairahkan pertumbuhan jasad - jasad mikro organis dalam tanah, mempercepat proses pertumbuhan humus dan memperbaiki struktur tanah. 6. Memperkuat tumbuh dan perkembangan tanaman sehingga memperkuat daya tahannya terhadap serangan penyakit penyakit dan membantu pemulihan tanaman dari pengaruh penyakit penyakit tanaman. 7. Membentuk sistem akar yang besar dan menembus jauh ke dalam tanah.

G. Aspek Aspek Positif Dalam Penggunaan 1. Dapat dipergunakan dalam setiap musim dan semua jenis tanaman pada tanah sesungguhnya. 2. Meningkatkan pertumbuhan / kehidupan mikro organis tanah dan humus serta memperbaiki struktur tanah. 3. Mempercepat pelarutan unsur unsur non organik. 4. Mengurangi sisa sisa racun ex pestisida dan herbisida. 5. Memberikan kestabilan keadaan tanah untuk keuntungan jangka panjang. 6. Memproduksi nutrisi untuk tanaman secara alamiah. 7. Membentuk system akar yang lebih banyak, kuat dan besar. 8. Menghasilkan buah yang rata rata besar ukurannya, gurih dan enak sehingga nilai sehingga nilai ekonomisnya meningkat.

Peternakan Ayam 1

Persiapan Sebelum Anak Ayam Tiba

Biasakan membeli anak ayam yang berkualitas sesuai kebutuhan. Untuk ayam petelur, belilah anak ayam betina yang telah diseleksi kelaminnya (sexed pullet). Untuk jenis rasnya pilihlah Leghorn atau Rhode Island Red atau ayam lainnya yang masuk dalam katagori sebagai ayam petelur yang baik. Untuk broiler atau ayam pedaging, agar lebih murah harganya, pilihlah anak ayam yang belum diseleksi kelaminnya (straight-run). Untuk jenis rasnya pilihlah Plymouth Rock atau ayam pedaging komersial lainnya. Apabila anak ayam dibeli dari perusahaan peternakan ayam, mintalah sekalian divaksinasi terhadap penyakit Marek. Vaksinasi ini sebaiknya dilakukan segera setelah anak ayam dientaskan agar sepanjang hidupnya tercegah dari serangan penyakit Marek yang sangat mematikan. Barang bekas berupa kotak kayu yang besar dapat dibuat sebagai kandang anak ayam. Buatlah lubang disisinya untuk memasukkan kabel lampu. Lampu 60 Watt di dalam kandang akan memberikan panas yang cukup pada anak ayam dan biasanya mereka akan mencari sendiri posisi yang paling nyaman. Usahakan agar lampu tidak menyentuh kandang untuk menghindari kemungkinan terjadinya kebakaran. Sebagai alas atau talam (litter) dalam kandang dapat digunakan kulit gabah atau butiran strowbur (plastik busa) yang masih baru dengan ketebalan antara 10 sampai 15 cm. Kandang yang baik bagi anak ayam adalah apabila suhu di sisi luar sebelah bawah kandang berkisar antara 30 sampai 32ºC. Sebilah papan atau anyaman kawat setinggi kurang lebih 60 cm dari dasar kandang dipasang sebagai penghalang anak ayam dari sumber panas. Ventilasi kandang merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan tinggi rendahnya suhu di dalam kandang. Beberapa ventilasi sebaiknya disediakan penutupnya. Pada musim dingin, semua ventilasi yang menghadap pada arah angin masuk terutama yang dekat lantai hendaknya ditutup. Sedangkan pada musim panas, bukalah ventilasi selebar-lebarnya agar udara segar masuk sebanyak-banyaknya. Penggunaan kipas harus dihindarkan karena dapat mnyebabkan ayam menjadi sakit. Disamping penyakit stres, ayam yang berada dalam tempat yang terlalu panas karena sistem ventilasi yang buruk, akan tidak mau makan atau minum secara normal. Akibatnya ayam akan cacat dan bagi ayam petelur tidak akan tumbuh dengan baik atau kerdil. Kandang harus aman dari gangguan kucing, tikus, serta binatang pemangsa lainnya. Periksa juga atapnya apakah tidak bocor apabila hujan turun. Sebelum anak ayam tiba, Anda harus yakin betul bahwa Anda telah siap menerimanya. Kandang dan semua peralatan telah dibersihkan dan disemprot anti hama. Pekerjaan tersebut sudah harus selesai beberapa hari menjelang anak ayam tiba sehingga kandang benar-benar telah kering pada saat anak ayam tiba.

Peternakan Ayam 2

Memilih Varietas Ayam

Suatu varietas ayam adalah suatu ras atau family dari ayam yang memiliki kesamaan umum dalam hal ukuran, bentuk atau profil, dan pembawaan. Semua ayam dalam satu varietas akan memiliki karakteristik yang sama yaitu: warna kulit, Varietas ini selanjutnya dibagi ke dalam beberapa kelas. Kelas ayam yang sudah banyak dibudidayakan pada umumnya diberi nama yang dikaitkan dengan tempat asalnya, misalnya American, Asiatic, English, Mediteranian, dan semacamnya.

Untuk memulai usaha kecil-kecilan di bidang peternakan ayam, ada tiga jenis varietas yang bisa dipilih berdasarkan tujuan pemeliharaannya, yaitu: ayam petelur, ayam pedaging atau ayam potong, dan ayam berfungsi ganda untuk kedua maksud tersebut.

Ayam petelur - Ayam ini tubuhnya relatif lebih kecil. Produksi telurnya antara 250 sampai 280 butir per tahun. Telur pertama dihasilkan pada saat berumur 5 bulan dan akan terus menghasilkan telur sampai umurnya mencapai 10 - 12 tahun. Umumnya, produksi telur yang terbaik akan diperoleh pada tahun pertama ayam mulai bertelur. Produksi telur pada tahun-tahun berikutnya cenderung akan terus menurun.

Ada dua pilihan untuk ayam petelur ini yang dibedakan dari warna telurnya, yaitu:

· Telur berwarna putih
Ayam petelur dengan telur berwarna putih yang terbaik adalah dari Jenis ras Leghorn. Hanya saja ayam ini suka terbang dan sangat berisik. Jenis ras lainnya yang menghasilkan telur putih diantaranya adalah Minorcas. Anconas, dan California White.

Red Leghorn

Pearl White Leghorn

Red Leghorn

Pearl White Leghorn

· Telur berwarna coklat
Sedangkan ayam peterlur dengan telur berwarna coklat yang terbaik adalah dari Jenis ras Production Red. Ayam hibrida ini adalah hasil perkawinan silang dari ayam petelur Rhode Islands Red dan New Hampshire. Sedangkan ayam ras Rhode Islands Red dan New Hampshire sendiri sudah tergolong sebagai ayam petelur yang baik dalam menghasilkan telur berwarna coklat.

Barred Rock

Black Australorp

Production Red

Gold Star

Barred Rock

Black Australorp

Production Red

Gold Star

Black Sex Link

White Rock

Buff Orpington

Silver Laced Wyandotte

Black Sex Link

White Rock

Buff Orpington

Silver Laced Wyandotte

Ayam pedaging - Ayam silang Cornish Rock adalah ayam pedaging yang tergolong terbaik pada saat ini. Ayam ini merupakan hasil silang dari Cornish dan Plymouth Rock. Ayam pedaging lainnya yang tergolong baik adalah dari jenis ras Brahmas, Cochins, dan Cornish. Ayam pedaging yang baik adalah ayam yang mengkonsumsi dua kilogram pakan untuk menghasilkan satu kilogram berat tubuhnya. Ayam betina pada umumnya djual ke pasar pada saat beratnya mencapai antara satu tiga per empat kg sampai dua setengah kg sedangkan ayam jantan antara tiga kg sampai empat kg. Ayam yang semakin cepat pertumbuhannya maka semakin ekonomis unuk dipelihara.

Red Broilers

Black Broilers

Red Broiler

Black Broiler

Ayam berfungsi ganda - Ayam pada jenis ini merupakan campuran antara ayam petelur dan ayam pedaging. Dominiques, Plymouth Rocks, Sussex, Orpington, and Wynadottes adalah beberapa ras ayam dari ayam berfungsi ganda. Ayam kampung di negara kita adalah termasuk pada jenis ini.Telur ayam jenis ini berwarna coklat dan mereka membesarkan sendiri anak-anaknya. Pada umumnya mereka tidak mengasilkan berat tubuh secepat ayam pedaging dan juga tidak menghasilkan telur sebanyak ayam petelur. Ayam ini berciri khas sebagai ayam yang dipelihara di halaman belakang rumah. Peternak akan memperoleh telur ayam untuk konsumsi sehari-hari disamping sesekali memperoleh daging ayam jantan dari kelebihan jumlah yang diperlukan dan daging ayam-ayam tua yang sudah tidak produktif lagi.

Pertimbangan lain dalam memilih jenis varietas ayam adalah kondisi cuaca lokal di tempat peternakan berada.

Ayam yang berbulu tebal akan lebih cocok dipelihara ditempat yang bercuaca lebih dingin dari pada ayam yang berbulu tipis. Orpingtons, Brahmas, Cochins. Plymouth Rocks, Rhode Island Reds dan Wyandottes adalah ayam-ayam yang berbulu tebal yang berarti cocok pada cuaca dingin. Leghorn, Minorca, Andalusian, Hamburgs dan ayam Mediterranean lainnya akan lebih baik dipelihara pada tempat-tempat yang bercuaca lebih hangat.

Untuk lebih jelasnya dalam menentukan varietas yang cocok dengan cuaca lokal di tempat Anda, sebaiknya dikonsultasikan pada Dinas Peternakan Ayam setempat atau perusahaan ternak ayam terdekat.

Lebih lanjut, sebaiknya dibiasakan membeli anak ayam yang berkualitas sesuai kebutuhan. Apabila anak ayam dibeli dari perusahaan peternakan ayam, mintalah sekalian divaksinasi terhadap penyakit Marek. Vaksinasi ini sebaiknya dilakukan segera setelah anak ayam dientaskan agar sepanjang hidupnya tercegah dari serangan penyakit Marek yang sangat mematikan. Untuk broiler atau ayam pedaging, agar lebih murah harganya, pilihlah anak ayam yang belum diseleksi kelaminnya (straight-run).

Hendaknya diingat bahwa pada waktu memilih varietas ayam ini apabila ada yang cocok jangan dulu langsung dibeli. Anggap saja Anda berada dalam tahapan sedang melakukan survey, bukan sedang membeli. Pembelian anak ayam sebaiknya dilakukan apabila segala persiapan untuk kedatangan anak ayam telah selesai dikerjakan, karena apabila belum siap maka risiko kematian anak ayam yang baru dibeli tersebut akan sangat tinggi.

Peternakan Ayam 3

CARA MEMELIHARA AYAM NEGERI

Mulai Menempatkan Anak Ayam dengan Benar. Segala sesuatunya sudah harus siap bila anak ayam Anda tiba - kandang kering, peralatan bersih, suhu kandang diatur tepat, tempat air dan makanan terisi, lantai ditutup bersih, alas (litter) kering, dan penghalang panas berjalan dengan baik. Anda sekarang siap menempatkan anak ayam untuk dibesarkan. Bila anak ayam tiba, secara lembut angkat mereka dari kotak pengirimannya dan letakkan pada kandang yang hangat. Jangan dijatuhkan atau ditaburkan begitu saja karena dapat melukainya dan akan tetap cacat. Anak ayam yang masih kecil harus mendapat banyak makanan dan air segera setelah diletakkan di kandang. Sediakan paling sedikit empat tempat berukuran satu quart ( ± satu liter) atau dua tempat berukuran satu galon (empat quart) air untuk tiap 100 anak ayam. Masukkan sekitar lima anak ayam ke tempat air agar mereka tahu dimana air berada. Tempatkan pakan pemula (starter feed) pada karton tempat telur atau kertas yang berukuran 12"x12" dan diletakkan disekitar tempat minum. Penempatan pakan yang bersifat sementara ini diperlukan agar mudah kelihatan oleh anak ayam dan memancingnya agar segera memakannya. Tempat pakan biasa yang berukuran kecil ditempatkan di dalam kandang pada hari ke dua untuk mengurangi penghamburan makanan. Karton telur atau kertas tempat makanan sementara bisa dikeluarkan bila anak ayam telah berusia 5 hari dan terlihat telah makan dari tempat makan yang disediakan. Penyakit dapat segera menyebar apabila pakan dan minuman untuk anak ayam telah terkontaminasi. Pakan dan air harus diperiksa setiap hari. Apabila kotor dan kemungkinan telah terkontaminasi, tempat pakan dan air harus segera dibersihkan. Pakan dan minumannya juga harus diganti dengan yang baru. Tempat pakan harus benar-benar kering sebelum diisi dan pakan tersebut harus senatiasa berada dalam keadaan kering. Penyebab utama dari penyakit adalah bersumber dari pakan dan air yang tidak bersih. Beberapa hari pertama dari kehidupan anak ayam adalah masa yang paling kritis sehingga harus hati-hati. Berilah perhatian tambahan dalam menyediakan kebutuhan dasar anak ayam agar kelak dapat memungut hasilnya.

Perusahaan Pengolahan Susu Sapi

PT.ISAM
Pangan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Tubuh manusia membutuhkan makanan sebagai sumber energi, membantu pertumbuhan dan perkembangan, menjaga kesehatan tubuh, sebagai alat pembantu pelindung tubuh, dan lain sebagainya. Berdasarkan kandungan zat-zat gizinya, makanan dapat dikelompokan kedalam enam jenis, yaitu sebagai sumber protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air. Diantara keenam zat gizi tersebut, protein merupakan zat gizi yang memiliki fungsi cukup penting, diantaranya untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai bahan bakar dalam tubuh, zat pengatur berbagai proses dalam tubuh, mengatur keseimbangan asam-basa tubuh, dan lain-lain.
Susu sapi merupakan bahan pangan yang kaya akan protein, selain itu kandungan zat-zat gizinya sempurna dan paling mudah dicerna oleh tubuh. Menurut Appandi dan Chairunnisa (1975), Susu merupakan suatu emulsi lemak dalam larutan gula, garam mineral, dan protein dalam bentuk koloid. Susu memiliki kandungan zat-zat gizi dengan perbandingan sempurna, sehingga sangat esensial bagi tubuh. Zat-zat esensial tersebut menurut Haryanto (1998) terdiri dari air (88%), Protein (3,3%), Laktosa (4,7%), Lemak (3,3%), abu (0,7%) dan sisanya adalah vitamin-vitamin. Keseluruhan zat-zat esensial tersebut dapat dengan mudah dicerna dan diabsorpsi oleh tubuh (Muchidin,1993). Konsumsi susu perkapita pertahun masyarakat indonesia pada tahun 1996 adalah 5,72 kg atau 0,50 gr perkapita/hari, sedangkan pada tahunm 1998 terjadi penurunan sebesar 5,10 kg atau 0,44 gr perkapita/hari. Pada tahun1996 produksi susu segar dalam negeri sekitar 386.000 ton dengan jumlah permintaan susu sebesar 1.125.400 ton, namun pada tahun 1998 terjadi penurunan produksi dengan penerimaan susu dalam negeri yaitu sekitar 341.700 ton, dengan jumlah permintaan susu sebesar 1.034.600 ton, karena itu dilakukan impor susu dari luar negeri guna manutupi permintaan konsumen tersebut (LIPI,2000).
Dilihat dari segi nutrisi, susu memang merupakan bahan makanan yang kaya akan zat gizi, keadan ini disisi lain justru dapat menjadi media yang sangat baik sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya bakteri pathogen, sehingga susu menjadi mudah dan cepat sekali mengalami kerusakan. Jenis mikroba pathogen yang sering terdapat dalam susu diantaranya yaitu jenis Coliform, Bacillus subtilis, Strepytococcus liquefaciens, Alkaligenes viscous dan lain sebagainya.
Ada 2 upaya yang sering digunakan untuk dapat mempertahankan daya keawetan susu, yaitu dengan metode pendinginan dan pemanasan. Cara pendinginan bertujuan untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroba, temperatur yang digunakan umumnya adalah 2-40C. Cara pemanasan dapat dilakukan dengan jalan pasteurisasi dan sterilisasi, yang keduanya bertujuan sama, yaitu untuk membunuh semaksimal mungkin bakteri pathogen. Kedua cara ini dapat dilakukan secara mudah apabila jumlah susu tidak terlalu banyak, namun apabila dalam jumlah besar, proses pengolahan dan penanganan susu relatif lebih kompleks dan lebih sulit dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan suatu institusi yang mampu melakukan usah-usaha tersebut.
PT Industri Susu Alam Murni (ISAM) merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan susu sapi. Sumber bahan baku yang dipergunakan berasal dari para peternak rakyat yang ditampung melalui KUD. Disamping itu, PT ISAM juga memilki kerja sama yang erat dengan perusahaan peternakan sapi perah PT Tsukisima Indofood Agropratama (PT TIA) Sukabumi yang berfungsi sebagai suplier tetap bahan baku untuk pembuatan produk olahan susu organik. Beberapa produk hasil produksi PT ISAM diantaranya adalah susu Pasteurisasi, susu Sterillisasi, dan Yoghurt.
Dengan keberadaan PT ISAM ini, diharapkan dapat mampu menyediakan dan mendistribusikan produk-produk olahan susu keberbagai tempat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga akan menjadi salah satu institusi yang dapat mensejahterakan masyarakat baik dipihak peternak maupun masyarakat konsumen umumnya.

Pemanfaatan Limbah Bagi Kolam Perikanan

Forum Diskusi

Pada perusahaan Ohim Farm didirikan beberapa kolam perikanan sebagai pemanfaatan dari limbah, peternakan ayam ras. Dari limbah tersebut dimanfaatkan kotoran ternak sebagai pemupukan awal pada saat kolam akan diairi. Cara tersebut dilakukan untuk memancing jasad renik untuk tumbuh pada saat kolam diairi untuk pemeliharaan ikan kelak.

Pemanfaatan limbah ternak ayam untuk pemeliharaan ikan pada kolam-kolam buatan di sekitar area peternakan dimaksudkan selain memanfaatkan limbah yang ada juga untuk menambah pemasukan keuangan perusahaan.

Cara pembuatan kolam

Untuk membuat kolam perikanan dilingkungan peternakan tidaklah terlalu sulit, hal ini mengingat karena lahan dan bahan organic hasil limbah yang tersedia cukup melimpah dan dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Pada tahapan pertama adalah penaburan kapur pada permukaan kolam sebelum diairi. Hal ini dimaksudkan untuk menambah unsure mineral pada kolam yang dapat bermanfaat bagi ikan-ikan kelak juga adanya kapur ini dapat mencegah tumbuh serta berkembangnya mikroorganisme yang kemungkinan akan mengancam pertumbuhan populasi ikan. Setelah itu pada permukaan dasar kolam dilakukan pemupukan berupa kotoran ternak. Maksud dari pemupukan adalah untuk menumbuhkan jasad renik seperti belatung, larva lalat, telur cacing dan lain sevbagainya yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan secara alami. Setelah ditaburi kapur serta kotoran ternak, maka kolam dapat di airi kurang lebih seperempat bagian agar jasad renik yang diharapkan dapat tumbuh subur. Baru kemudian setelah beberapa hari tumbuh berbagai jasaad renik serta cacing kolam dapat diairi penuh, namun untuk kolam ikan lele sebaiknya kolam/permukaan kolam dengan tanah sekitar berjarak setengah meter sampai 1 meter hal ini guna menghindari meloncatnya ikan ke darat.

Adapun ikan yang ditanam pada kolam kami adalah ikan lele, gurame dan nila

Dimana dipelihara pada kolam yang berbeda. Pemanenan dapat dilakukan 2 minggu sekali, karena ikan yang dipelihara merupakan budidaya pembesaran saja dan perusahaan kami tidak memelihara pendederan/benih ikan.

Selain kotoran limbah yang dihasilkan untuk kolam perikanan, juga pada gundukan kotoran ayam di gudang terkadang ditumbuhi kecoa tanah yang merupakan sumber potensial untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi ikan-ikan di kolam terutama lele dan gurame. Selain itu kecoa tanah tersebut sebagian dikemas dan di jual di pasaran sebagai bahan umpan bagi para pemancing yang hobi. Oleh karena itu pada beberapa kolam disediakan fasilitas untuk pemancingan umum mengingat potensi pemasukan keuangan bagi perusahaan.

Forum Diskusi-Tanya Jawab

Pertanyaan 1: Leliana Santika

“ Apakah kecoa tanah yang dikemas merupakan produksi utama? Dan bagaimana jika penyediaan kecoa tersebut terbatas dan tidak memenuhi harapan penjualan?”

Jawaban 1 : Nurdiansyah/kepala bagian perikanan

“ Pemanfaatan kecoa tanah untuk pakan ikan hanyalah bersifat pemanfaatan sumber daya protein yang dapat diberikan pada ikan untuk meningkatkan kualitas serta mutu ikan yang dihasilkan mengingat kecoa tumbuh subur pada gudang kami yang berjumlah ukuran ton setiap bulannya sehingga jumlahnya melimpah. Setelah diberikan pada kolam ikan kami untuk pakan tanbahan bagi ikan, ternyata masih cukup berlebih sehingga kami mengemasnya dalam suatu wadah sebagai pakan ikan dan kami jual di pasaran karena ternyata permintaannya memang meningkat, terutama bagi para penghobi memancing. Jikapun stok kecoa tanah tersebut habis, maka kami tidak terlalu kerepotan dan untuk pakan ikan sebenarnya telah tersedia secara alami dari pemupukan awal dan lanjutan yang kami lakukan, terima kasih.”

Pertanyaan 2 : Budi Permana

“ Bagaiman jika bangkai ayam yang diberikan pada ikan mengandung bakteri salmonella, apakah tidak merugikan kelak dengan banyaknya ikan yang mati?”

Jawaban 2 : Nurdiansyah

“ Tidak karena sebelum diberikan pada ikan kami telah melakukan sterilisasi terlebih dulu “

Jawaban 2 : Ade Ahmad Jaelani

“ Ayam yang kami berikan setelah dicacah kami bakar sehingga kami berikan berupa serbuk “

Pertanyaan 3 : Ujang Arif Abdillah

“ Bagaimana jika limbah hasil pencucian kandang yang masuk kolam ikan mengandung bahan beracun yang dapat membahayakan ikan?”

Jawaban 3 : Nurdiansyah

“ Kami tidak menggunakan desinfektan guna membersihkan kandang, namun melakukan pengapuran ulang, selain itu pada kolam telah mengandung kapur guna mencegah terserangnya ikan dari mikroorganisme, jikapun ada desinfektan/ bahan beracun yang nyelonong masuk toh ikan tidak akan memakannya sehingga tidak terakumulatif dalam tubuh ikan “

Pertanyaan 4 : Lisa Rahayu

“ Pada pembuatan pupuk organic starter apa yang digunakan dan kenapa tidak pakai gula sebagai nutrisi bagi bakteri starter”

Jawaban 4 : Ade Ahmad Jaelani

“ Kami menggunakan EM4 yang bekerja secara aerobik, adapun nmutrisi bagi bakteri telah ada pada kotoran ternak, dedak serta sekam.”

Lab.THT Universitas Padjadjaran 16/11/2002

Limbah Peternakan Sapi 1

Pupuk Organik

Pada era globalisasi, masalah lingkungan, terutama mengenai penanganan limbah merupakan salah satu aspek penting yang banyak mendapat perhatian masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya. Limbah adalah suatu bahan sisa dari suatu proses produksi atau aktivitas manusia yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Pada industri pertanian, terutama subsektor peternakan, limbah menjadi salah satu hal penting yang harus dipikirkan penanggulangannya, karena dapat menimbulkan berbagai dampak yang tidak dikehendaki.

Seiring dengan semakin meningkatnya tingkat kebutuhan manusia, terutama mengenai tuntutan pemenuhan kebutuhan protein hewani maka usaha peternakan dirasakan semakin meningkat. Salah satu bidang usaha peternakan yang sedang berkembang di Indonesia saat ini adalah usaha penggemukan sapi, walaupun kebutuhan sapi bakalannya masih diimpor dari luar negeri. Meningkatnya usaha penggemukan sapi akan meningkatkan pula limbah peternakan yang dihasilkan. Limbah dari usaha penggemukan sapi ini sangat potensial sebagai sumber daya dan juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, seperti pencemaran air berupa terakumulasinya sulfit dalam air, pencemaran tanah yang menyebabkan pH tanah terlalu asam dan pencemaran udara berupa bau tidak sedap yang disebabkan oleh amoniak (NH3) dan dihidrogen sulfida (H2S) yang terdapat pada limbah hewan, terutama feses. Bau yang tidak enak ini selain mengganggu kenyamanan udara bagi masyarakat setempat, juga akan merangsang lalat dan nyamuk untuk datang dan berkembang biak di tempat timbunan limbah tersebut, yang pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti disentri dan diare pada ternak itu sendiri, juga pada manusia yang berada disekitar usaha tersebut berada.

Limbah yang dihasilkan dari usaha penggemukan sapi terdiri dari limbah sisa pakan, urine sapi dan feses sapi atau secara umum terbagi menjadi dua yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat dari usaha penggemukan sapi potong terutama feses sapi merupakan limbah terbesar yang dihasilkan dari usaha tersebut. Feses yang dihasilkan dari seekor sapi potong dewasa rata-rata sebanyak 6 % dari bobot tubuhnya, jadi jika suatu usaha penggemukan sapi potong mempunyai kapasitas kandang untuk 1000 ekor sapi potong dengan bobot tubuh sapi rata-rata 350 Kg, maka dalam sehari akan diperoleh feses sebanyak 21 ton.

Limbah peternakan sebagian besar berupa bahan organik. Hal ini menunjukkan bahwa apabila dikelola dengan cara yang benar dan tepat peruntukkannya, limbah peternakan masih memiliki nilai sebagai sumberdaya yang potensial bermanfaat. Sejak dahulu limbah peternakan sudah digunakan oleh petani sebagai bahan sumber pupuk organik, namun karena pengaruh intensifikasi pertanian, pemanfaatan tersebut kian berkurang. Selain itu juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi pengolahan limbah peternakan yang masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan petani pada masa itu. Pengolahan limbah sebagai pupuk masih dilakukan secara konvensional, yaitu dibiarkan menumpuk dan mengalami proses degradasi secara alami. Teknologi yang tepat dan benar belum dikembangkan.

Teknik pengomposan merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih untuk menanggulangi limbah feses sapi potong. Dengan cara ini, biaya operasional relatif lebih murah dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Selain itu dengan pengomposan juga dapat memperkaya unsur hara pupuk organik yang dihasilkan dari pengolahan limbah peternakan tersebut, namun demikian data mengenai pengomposan yang tepat untuk menangani limbah peternakan, khususnya limbah sapi potong belum diperoleh informasi yang lengkap.

Teknik pengomposan merupakan salah satu cara pengolahan limbah yang memanfaatkan proses biokonversi atau transformasi mikrobial. Biokonversi itu sendiri adalah proses-proses yang dilakukan oleh mikroorganisme untuk merubah suatu senyawa atau bahan menjadi produk yang mempunyai struktur kimiawi yang berhubungan. Proses biokonversi limbah dengan cara pengomposan menghasilkan pupuk organik yang merupakan hasil degradasi bahan organik. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah bahan organik limbah sudah terdegradasi dengan baik adalah perubahan bahan organik limbah menjadi unsur hara, terutama unsur hara makro, seperti N total, P2O5 dan K2O.

Proses pengomposan secara alamiah terjadi sangat lama, umumnya membutuhkan waktu hingga 6 bulan. Waktu pengomposan yang relatif lama menyebabkan proses pengomposan menjadi kurang efektif dalam penanganan limbah usaha penggemukan sapi, karena limbah yang dihasilkan terus terakumulasi setiap hari. Teknik pengomposan dapat dikembangkan dengan cara menambahkan inokulan tertentu kedalam limbah peternakan, sehingga prosesnya terjadi lebih cepat. Cara lain adalah dengan memanfaatkan limbah tersebut untuk kehidupan organisma tertentu secara langsung, sebagai media hidup ataupun sebagai sumber kebutuhan pakannya.


Limbah Peternakan Sapi 2

Pupuk Organik/Kompos

Pada era globalisasi, masalah lingkungan, terutama mengenai penanganan limbah merupakan salah satu aspek penting yang banyak mendapat perhatian masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya. Limbah adalah suatu bahan sisa dari suatu proses produksi atau aktivitas manusia yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Pada industri pertanian, terutama subsektor peternakan, limbah menjadi salah satu hal penting yang harus dipikirkan penanggulangannya, karena dapat menimbulkan berbagai dampak yang tidak dikehendaki.

Seiring dengan semakin meningkatnya tingkat kebutuhan manusia, terutama mengenai tuntutan pemenuhan kebutuhan protein hewani maka usaha peternakan dirasakan semakin meningkat. Salah satu bidang usaha peternakan yang sedang berkembang di Indonesia saat ini adalah usaha penggemukan sapi, walaupun kebutuhan sapi bakalannya masih diimpor dari luar negeri. Meningkatnya usaha penggemukan sapi akan meningkatkan pula limbah peternakan yang dihasilkan. Limbah dari usaha penggemukan sapi ini sangat potensial sebagai sumber daya dan juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, seperti pencemaran air berupa terakumulasinya sulfit dalam air, pencemaran tanah yang menyebabkan pH tanah terlalu asam dan pencemaran udara berupa bau tidak sedap yang disebabkan oleh amoniak (NH3) dan dihidrogen sulfida (H2S) yang terdapat pada limbah hewan, terutama feses. Bau yang tidak enak ini selain mengganggu kenyamanan udara bagi masyarakat setempat, juga akan merangsang lalat dan nyamuk untuk datang dan berkembang biak di tempat timbunan limbah tersebut, yang pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti disentri dan diare pada ternak itu sendiri, juga pada manusia yang berada disekitar usaha tersebut berada.

Limbah yang dihasilkan dari usaha penggemukan sapi terdiri dari limbah sisa pakan, urine sapi dan feses sapi atau secara umum terbagi menjadi dua yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat dari usaha penggemukan sapi potong terutama feses sapi merupakan limbah terbesar yang dihasilkan dari usaha tersebut. Feses yang dihasilkan dari seekor sapi potong dewasa rata-rata sebanyak 6 % dari bobot tubuhnya, jadi jika suatu usaha penggemukan sapi potong mempunyai kapasitas kandang untuk 1000 ekor sapi potong dengan bobot tubuh sapi rata-rata 350 Kg, maka dalam sehari akan diperoleh feses sebanyak 21 ton.

Limbah peternakan sebagian besar berupa bahan organik. Hal ini menunjukkan bahwa apabila dikelola dengan cara yang benar dan tepat peruntukkannya, limbah peternakan masih memiliki nilai sebagai sumberdaya yang potensial bermanfaat. Sejak dahulu limbah peternakan sudah digunakan oleh petani sebagai bahan sumber pupuk organik, namun karena pengaruh intensifikasi pertanian, pemanfaatan tersebut kian berkurang. Selain itu juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi pengolahan limbah peternakan yang masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan petani pada masa itu. Pengolahan limbah sebagai pupuk masih dilakukan secara konvensional, yaitu dibiarkan menumpuk dan mengalami proses degradasi secara alami. Teknologi yang tepat dan benar belum dikembangkan.

Teknik pengomposan merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih untuk menanggulangi limbah feses sapi potong. Dengan cara ini, biaya operasional relatif lebih murah dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Selain itu dengan pengomposan juga dapat memperkaya unsur hara pupuk organik yang dihasilkan dari pengolahan limbah peternakan tersebut, namun demikian data mengenai pengomposan yang tepat untuk menangani limbah peternakan, khususnya limbah sapi potong belum diperoleh informasi yang lengkap.

Teknik pengomposan merupakan salah satu cara pengolahan limbah yang memanfaatkan proses biokonversi atau transformasi mikrobial. Biokonversi itu sendiri adalah proses-proses yang dilakukan oleh mikroorganisme untuk merubah suatu senyawa atau bahan menjadi produk yang mempunyai struktur kimiawi yang berhubungan. Proses biokonversi limbah dengan cara pengomposan menghasilkan pupuk organik yang merupakan hasil degradasi bahan organik. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah bahan organik limbah sudah terdegradasi dengan baik adalah perubahan bahan organik limbah menjadi unsur hara, terutama unsur hara makro, seperti N total, P2O5 dan K2O.

Proses pengomposan secara alamiah terjadi sangat lama, umumnya membutuhkan waktu hingga 6 bulan. Waktu pengomposan yang relatif lama menyebabkan proses pengomposan menjadi kurang efektif dalam penanganan limbah usaha penggemukan sapi, karena limbah yang dihasilkan terus terakumulasi setiap hari. Teknik pengomposan dapat dikembangkan dengan cara menambahkan inokulan tertentu kedalam limbah peternakan, sehingga prosesnya terjadi lebih cepat. Cara lain adalah dengan memanfaatkan limbah tersebut untuk kehidupan organisma tertentu secara langsung, sebagai media hidup ataupun sebagai sumber kebutuhan pakannya.

Limbah Peternakan Sapi 3

Kascing dari Kotoran Ternak

Perkembangan usaha peternakan dirasakan semakin mengalami peningkatan. Salah satu wujudnya adalah meningkatnya usaha penggemukan sapi potong baik dalam skala besar maupun skala usaha keluarga. Berkembangnya usaha ini menimbulkan dampak positif yang penting diantaranya adalah meningkatnya taraf ekonomi masyarakat dan terciptanya lapangan kerja baru. Namun demikian, usaha ini juga sangat potensial menimbulkan dampak negatif yang bisa mengakibatkan pencemaran lingkungan, baik terhadap air, udara maupun tanah, terutama apabila limbah peternakan yang dihasilkan tidak dikelola dengan baik dan benar.

Selama ini dampak negatif dari limbah peternakan yang sering dikeluhkan oleh masyarakat adalah timbulnya bau tidak sedap dari kotoran ternak. Akibatnya tidak jarang anggota masyarakat memprotes keberadaan usaha peternakan yang berada disekitar wilayahnya. Hal ini terjadi karena limbah peternakan sebagian besar terdiri atas bahan organik yang mudah terdegradasi oleh mikroorganisme sehingga proses pembusukan akan berlangsung cepat dan dapat menyebabkan bau tidak sedap. Salah satu alternatif dalam mengatasi timbulnya pencemaran yang disebabkan oleh limbah peternakan adalah memanfaatkan limbah tersebut secara terus menerus sebagai sumber daya untuk tujuan produktif, misalnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar biogas melalui proses biokonversi. Biokonversi merupakan proses perubahan suatu bahan dari suatu bentuk menjadi bentuk lain dengan melibatkan peran makhluk hidup didalamnya.

Biogas adalah gas yang diperoleh dari bahan organik yang telah mengalami proses perombakan secara fermentasi anaerob oleh bakteri pembentuk gas metan, misalnya Methanobacillus omelianskii. Biogas dapat dijadikan sebagai sumber energi karena gas ini mengandung sekitar 60 -70% gas metan yang mudah sekali terbakar sedangkan sisanya merupakan campuran yang diantaranya terdiri atas gas CO2, CO dan H2S. Bahan yang digunakan untuk pembuatan biogas salah satunya adalah kotoran ternak. Kotoran ternak yang dijadikan sebagai bahan untuk proses biogas, selain menghasilkan gas juga menghasilkan limbah yang disebut dengan “sludge”. Sludge adalah suatu fraksi padat dalam cairan yang bentuk visualnya seperti lumpur dan mengandung banyak sekali bentuk-bentuk kehidupan seperti bakteri, alga dan protozoa. Selama ini “sludge” yang dihasilkan dari proses pembuatan biogas tidak diolah menjadi bentuk lain, melainkan langsung digunakan sebagai pupuk tanaman atau dibiarkan begitu saja.

Selain dapat langsung digunakan sebagai pupuk tanaman, melalui proses biokonversi “sludge biogas” juga dapat diubah menjadi bentuk lain yang memiliki manfaat yang lebih tinggi. Biokonversi “sludge” dengan menggunakan cacing tanah sebagai perombaknya dapat menghasilkan manfaat yang lebih tinggi, yaitu dihasilkan “kascing” yang kualitasnya lebih baik daripada bahan asal, karena mengandung unsur hara yang lebih lengkap dan mudah diserap tanaman. Selain itu dihasilkan pula cacing tanah yang dapat digunakan sebagai sumber protein hewani pakan ternak. Sistem ini sangat mudah diterapkan karena beberapa jenis cacing tanah sudah diketahui cara pengembangbiakannya dan mudah diperoleh di Indonesia, misalnya Lumbricus rubellus, Eisenia foetida, Perionix excavatus, Pheretima asiatica dan Eisenia andrei

Keberhasilan proses biokonversi “sludge biogas” menjadi biomassa “kascing” dan biomassa cacing tanah salah satunya sangat dipengaruhi oleh padat tebar cacing tanah dalam media, pada kepadatan yang terlalu rendah, perkembangan cacing tanah sangat ideal, akan tetapi proses biokonversinya lambat, sebaliknya, pada kepadatan yang terlalu tinggi, pada awalnya proses biokonversi terjadi sangat cepat akan tetapi perkembangan cacing tanah menjadi tidak optimum. Walaupun demikian informasi tentang biomassa cacing tanah dan biomassa “kascing” yang dihasilkan dari proses biokonversi “sludge biogas” belum banyak didapatkan