Rabu, Maret 12, 2008

Juragan Ayam Potong

Dengan keuletannya, Tujo Hadi Sumarto merambah dari pengumpul ayam menjadi pengusaha besar ayam potong yang sukses.

Terik matahari menyengat kulit. Namun, di depan deretan toko di Jalan Godean Km. 7,5, Yogyakarta, kesibukan beberapa pria mengangkati kantong pakan ternak ke atas sebuah mobil pikap tak menyurut. Di antara mereka terlihat seorang lelaki setengah baya yang ikut bermandi keringat membawa zak-zak itu sambil menghitung tumpukan yang sudah berada di atas mobil, siap dikirim ke para pembeli.

Mengenakan kaus oblong, celana panjang, dan sandal kulit imitasi, ia tak berbeda dengan para pengangkut lainnya. Suaranyalah yang membedakan. Dengan tegas ia mengomandani aktivitas di siang itu. Dialah Tujo Hadi Sumarto, 50 tahun, satu dari pengusaha besar perdagangan ayam potong dan pakan ternak di Jogyakarta.

Setiap hari, Tujo, yang lebih dikenal dengan nama kecilnya Paidi, bisa menjual 25 hingga 30 ton ayam potong ke Jakarta, Bogor, dan beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk menunjang usahanya, ia memiliki 20 truk besar dan Colt pikap, serta 10 buah sepeda motor. Tersedia pula gudang seluas 4.000 meter persegi dan tiga lokasi kandang dengan kapasitas sekitar 4.000 ekor ayam. “Untuk melanyani pembeli di sekitar sini,” ujarnya.

Uang yang berputar dalam bisnis ayam potong itu ditaksir rata-rata mencapai Rp. 200 juta per hari. Dari ayam ini, Tujo telah memetik hasilnya: dua rumah besar jadi tempatknya berteduh — salah satunya yang bernilai Rp. 850 juta baru dibangun di atas tanah seluas 550 meter persegi. Mau ke mana-mana ia tinggal menstater tiga mobil menterengnya, dua buah Baby Benz dan satu buah BMW.
Cerita Paidi bukanlah kisah Cinderella. Keberhasilan pengusaha ini bisa ditiru siapa pun yang punya tekad sekuat Tujo. Hanya lulusan sekolah rakyat (setingkat sekolah dasar), lelaki ini membangun bata demi bata istananya dengan sikapnya yang menghalalkan kerja keras, tekun dan berhemat selama bertahun-tahun.

Mewarisi bakat dagang dari ayahnya, mula-mula Paidi sekadar membantu menjual ayam potong milik ayahnya. Pada 1969, ia memulai bisnis sendiri sebagi pedagang ayam keliling. Berbekal sedikit uang dari ayahnya dan sebuah sepeda onthel dengan keranjang di belakangnya, ia keluar-masuk kampung mengumpulkan ayam dan menjualnya ke pasar-pasar di sekitar Wates, Nanggulan, Godean, Muntilan, hingga Jogjakarta.

Untuk menjual 70 ekor ayam kampung hidup, Paidi harus menggenjot sepedanya kadang sampai 35 kilometer. Ia tak berkeluh kesar. “bagaimana lagi, saya harus menjalani pekerjaan itu dengan telaten. Mau melanjutkan sekolah, orang tua tidak mampu, jadi saya mengikuti jejak orang tua berjualan ayam,” tuturnya.

Genjotan onthel-nya mengalirkan rezeki. Dalam tempo 10 tahun, sepedanya bisa pensiun karena digantikan sebuah mobil Colt pikap. Jangkauan pemasarannya jelas membesar hingga ke pelosok desa di sekitar Jogjakarta. Jumlah ayam yang dijualnya meningkat hingga sekitar 500 ekor ayam kampung setiap hari.

Pada saat marak usaha peternakan ayam potong, ayah tiga orang itu memberanikan diri menjadi peternak. Itu dilakukannya pada 1990. Dua tahun kemudian, seiring dengan makin sulitnya mencari ayam kampung, dagangannya dialihkan menjadi ayam negeri. Jogjakarta dianggapnya tak lagi cukup besar, maka luar daerah pun dibanjirinya dengan ayam potong yang disebar memakai truk sewaan. Hanya beberapa tahun ia menyewa, setelah itu Paidi memakai Colt L-300 pikap yang dibelinya sendiri.

Sikap wiraswasta teruji di kala krisis ekonomi mendera. Saat itu, ada peternak yang mengelola 80 ribu ayam potong yang bangkrut karena tingginya harga pakan ayam. Paidi mengambilalihnya. Truknya dijual untuk tambahan modal. Perhitunganya terbukti tepat. Ketika itu, lantaran banyak pedagang dan peternak jatuh bangkrut, pasokan ayam otomatis menurun drastis sehingga harganya melambung tinggi. Tujo pun menuai untuk melimpah.

Keberhasilan Paidi meniti buih pada saat terhadi krisis moneter tak lepas dari sikapnya yang hemat dan berhati-hati. Ia tak pernah hanya terbawa arus kebiasaan meminjam uang di bank atau membeli barang dengan sistem kredit. Dengan merendah, ia mengaku sebagai orang yang penakut. “Kalau pemberani, mungkin sudah sukses dari dulu karena belum banyak pedagang sehingga saingannya sedikit,” katanya.

Namun, sikap penakutnya itu justru menolongnya karena membuat ia tak teherat utang selama masa krisis, sementara pedagang lain jatuh karena utang menumpuk. “Saya tidak suka kredit. Membeli mobil pun saya lakukan secara kontan. Kalaupun terpaksa kredit benar-benar saya perhitungkan jangan sampai nantinya tidak mampu membayar,” paparnya panjang lebar. Selama berbisnis, Paidi tercatat baru sekali meminjam uang, yaitu dari PT. Sarana Jogja Ventura. Bantuan pembiayaan Rp. 200 juta itu diterimanya setahun lalu untuk menyelesaikan pembangunan rumah.
Ada lagi beberapa sifat Paidi yang cocok dengan iklim usaha yang dijalaninya. Ia, misalnya sangat menjunjung kejujuran dan menjaga kepercayaan orang. Hasilnya? Dengan bangga ia menuturkan bisa gampang berjual-beli hanya dengan menggunakan telpon. “Kadang, kalau mengambil ayam, saya hanya menyuruh sopir dengan membawa memo atau DO (delivery order), mereka sudah percaya,” katanya. Kemudian ayam-ayam itu langsung dikirim lagi ke pedagang yang memesan. Tentu, tak semua kliennya seperti dirinya. Sekali it pernah kena getok. Suatu ketika ia mendapat pesanan satu truk telur ayam senilai Rp. 18 juta. Barang langsung dikirim, tapi pembayaran tak kunjung sampai hingga kini.

Satu lagi sifatnya yang susah-susah gampang untuk ditiru adalah tidak kemaruk. Ia tetap menjalani hidup sederhana, tak ada secuil kemewahan pun di tempat kerjanya di Jalan Godean, yang hanya berupa lima unit toko seluas 4 kali 3 meter. Satu ruangan digunakan untuk kantor dan yang lain menjadi gudang sekaligus toko pakan ternak yang dinamainya “Wawan Poultry Shop”, mengambil nama salah seorang anaknya.

Di sana cuma ada sebuah meja tulis tua dilapisi kaca yang pojoknya sudah pecah, tiga kursi lipat, dua kursi kayu dan dua bangku panjang. Di sisi lain ruangan itu terlihat sebuah lemari dokumen besi bersusun empat dan sebuah kulkas. “Saya tidak senang dipuji, karena itu saya tidak mau mengubah penampilan. Sejak dulu yang begini, punya atau tidak punya, ya seadanya dan biasa saja,” ceritanya
Tak cuma hubungannya dengan pelanggan yang harus dipelihara, tapi juga mitra kerja dan kesejahteraan para karyawannya. Sebanyak 40 orang karyawannya loyal kepadanya karena mendapat gaji dan fasilitas yang cukup. Bonus dan piknik bersama selalu menunggu mereka di setiap akhir tahun. Seperti tahun ini, ramai-ramai mereka piknik ke Jawa Timur memakai dua bus.

Dengan modal ketekunan, kejujuran, dan sikap hemat itulah Paidi menyongsong masa depan bisnis ayam potong yang menurut dia kini agak lesu. Apalagi pedagang semakin banyak sehingga tingkat persaingan makin tinggi. Kendati begitu, ia mengaku tidak mengalami penurunan omzet, tapi selama setahun terakhir sulit meningkatkan omzet. Pada tahun depan, dengan diberlakukannya perdagangan bebas dan penetapan harga standar, persaingan tentu akan semakin ketat.

“Pada saat itu, kualitas harus menjadi modal utama kami, dan servis kepada pelanggan menjadi sangat penting,” kata Paidi dengan gaya bicara yang tenang. Dan, ia beruntung sudah mengantongi modal hubungan baik yang selalu terpelihara dengan para pedagang dan peternak yang menjadi mitra kerjanya. “Saya berdagang selalu menggunakan ini (menunjuk ke dada). Jadi, bagi saya, pembeli, berapa pun dia membeli, saya perlakukan sama karena pembeli adalah raja. Selain itu, ramah-tamah tidak boleh ditinggalkan,” katanya sambil tersenyum. Sikap ramah-tamah dan bersahabat itu, tuturnya, penting untuk menjaga tali persaudaraan. Kalau sudah begitu, menurut dia, pelanggan akan sungkan lari ke tempat lain. Nugroho Dewanto, L.N. Idayanie (Yogyakarta)

Jumat, Maret 07, 2008

My Dream

Peternakan Terpadu

Alangkah senangnya ketika berada di peternakan sapi. Bagi sebagian orang mungkin merasa jijik dekat-dekat kandang ternak. Tapi, saya sungguh sangat menikmati saat-saat berkunjung ke peternakan. Kapan ya saya memiliki peternakan sendiri? dengan jumlah sapi yang banyak sekali. Rasanya, bau kotoran ternak yang menyatu dengan hembusan angin dari ladang merupakan terapi bagi saya, karena sungguh sangat damai dan serasa berada pada tempat yang jauh dari keramaian. Mungkin bagi orang bau tersebut sangat mengganggu, tapi bagi saya sendiri bau tersebut selalu dirindu.Hehe...asal jangan bau amoniak sama H2S-nya saja yang tercium mentah-mentah, bisa kelenger. :D
Saya heran, kenapa peternakan di Indonesia belum maju seperti di negara lainnya, misalnya Amerika ataupun Australia. Semakin heran lagi, sarjana-sarjana lulusan Fakultas Peternakan kesulitan mendapatkan pekerjaan, karena terbatasnya lapangan kerja yang ditawarkan. Seharusnya sarjana peternakan merupakan aset yang sangat berharga. Bukan sarjana tambang atau minyak yang berjaya dengan gaji WAH. :P. Kembali lagi ke peternakan sapi, sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Banyak pengusaha-pengusaha muda yang bergelut dengan dunia peternakan menuai kesuksesan yang luar biasa. Tapi itu yang punya modal, Namun, sangat disayangkan, animo masyarakat untuk ber-investasi pada bidang pertanian/peternakan relatif minim sekali. Masyarakat lebih suka menyimpan uangnya pada sektor-sektor yang cepat menghasilkan uang dengan tingkat return yang sangat tinggi(meski resiko juga tinggi), pasar modal misalnya. Padahal, banyak juga rekan-rekan saya yang harus merasakan kekecewaan mendalam akibat kerugian pada sektor tersebut. Bayangkan saja, puluhan milyar dana amblas kurang dari satu tahun. Ah, seandainya saja uang sebesar itu dibelikan sapi..dapat berapa ya? dan jika 50% sapi yang dibeli dari uang tersebut bunting dan melahirkan, tentu akan lebih besar lagi jumlahnya. Belum lagi berapa orang yang akan terlibat pada usaha tersebut. Saya cuma berandai-andai, misalnya para investor tersebut membuka peternakan di daerah-daerah tertinggal, dimana ketersediaan lahan dan pakan masih sangat besar, dan dipasarkan ke luar negeri berupa daging olahan, sudah barang tentu masyarakat kita akan semakin berkembang. Secara tidak langsung hal tersebut akan merangsang tumbuhnya industri-industri baru berbasis peternakan.Desa mengepung kota, rasanya harus diterapkan guna memeratakan pembangunan di Indonesia tercinta ini. Kabupaten Garut dapat dijadikan contoh, selain sayuran dan jeruknya yang terkenal itu, Garut memiliki beberapa kawasan dengan basis peternakan sapi perah, domba Garut, dan lain-lain. Di dekat kota Garut, daerah Sukaregang banyak terdapat industri-industri rumah tangga yang mengolah kulit sapi menjadi komoditas berkualitas ekspor. Mulai dari sepatu kulit, jaket kulit, tas, dompet, dan lain-lain industri berbahan baku kulit. Bahkan salah satu industri, milik H. Ate memiliki pabrik pengolahan kulit dimana hasil produksinya diekspor guna memenuhi permintaan pabrik-pabrik pembuatan mobil mewah di Eropa dan Korea. Bayangkan seandainya saja seluruh daerah di Indonesia memiliki kekuatan agribisnis pertanian maupun peternakan yang kuat dan kokoh tentunya Bangsa kita dapat berdiri dengan bangga di atas kaki sendiri, tanpa meng-exploitasi sumber-sumber alam yang dapat merusak lingkungan. Kita beli saja minyak dari arab, batu-bara dari Brazil, pokoknya semua jenis sumber daya alam yang tidak dapat terbarukan dibeli dari luar. Biar Bangsa kita utuh, bersih, alami, dan selalu indah...Tapi, rupanya saya bermimpi, hampir semua wilayah yang mengandung emas hitam dan emas putih diexploitasi sebesar-besarnya untuk para kapitalis, sehingga Indonesia sengsara dilanda banjir, lumpur lapindo, kerusakan lingkungan hampir di seluruh kawasan Indonesia. Ah, seandainya saja ladang-ladang kita penuh dengan tanaman pangan dan sayuran, penuh dengan ternak-ternak produktif, tentu bencana alam enggan berkunjung untuk merusaknya karena Indonesia begitu indah.
Lagi-lagi, bau sapi dan ladang sangat damai dan selalu dirindu...


Kamis, Maret 06, 2008

Pertanian terpadu

Integrasi Peternakan dengan lahan Pertanian
Salah satu upaya untuk mewujudkan pengembangan ekonomi daerah tertinggal yakni dengan cara pembangunan kawasan produksi berbasis komoditas unggulan. Peternakan sapi potong dapat menjadi salah satu komoditas unggulan yang layak dikembangkan guna meningkatkan pendapatan masyarakat daerah tertinggal.
Selama ini, sebagian besar pola peternakan sapi potong rakyat masih menggunakan pola tradisional dan belum tersentuh inovasi teknologi tepat guna. Masyarakat masih menganggap ternak sapi hanya sebagai alat bantu dalam pengolahan lahan pertanian. Cara beternak yang masih individual dengan pola pemeliharaan di dekat rumah tinggal dan pemberian pakan seadanya mengakibatkan populasi ternak dan produktifitasnya relatif kurang berkembang. Pola pemeliharaan ternak sapi potong rakyat selama ini perlu diubah guna mempercepat peningkatan produktifitasnya.
Pertanian organik terpadu berbasis peternakan terbukti sangat menguntungkan. Integrasi ternak dengan lahan pertanian merupakan upaya percepatan pengembangan peternakan dengan penerapan keterpaduan antar komoditas ternak dengan usaha tanaman pangan, perkebunan dan perikanan yang saling menguntungkan berupa limbah usaha tanaman pangan, perkebunan dan perikanan yang digunakan sebagai pakan ternak untuk ternak dan kotoran ternak dalam bentuk kompos yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian.
Kegiatan pertanian terpadu membutuhkan bahan organik dalam jumlah banyak. Dari kegiatan penggemukan sapi potong dapat dihasilkan bahan organik berupa pupuk kandang dan pupuk cair. Sebagai gambaran, dari 3 ekor sapi dapat dihasilkan kotoran yang dapat dipakai untuk memupuk 5 Ha sawah per tahun. Selain itu, dengan teknologi sederhana kotoran ternak dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif menjadi biogas. Pada beberapa peternakan sapi rakyat di Pangalengan pemanfaatan kotoran ternak sudah digunakan sebagai bahan bakar alternatif.