Selasa, Maret 04, 2008

Pangalengan

KPBS

Sejak zaman penjajahan Belanda, Pangalengan dikenal sebagai daerah peternakan sapi perah yang dikelola oleh Belanda. Perusahaan tersebut adalah Friesche Terp, Almanak, Van Der Els, dan Bigman. Keempat perusahaan tersebut melakukan pemasaran bersama melalui Bandungsche Melk Center ( BMC ). Ketika berlangsung pendudukan Jepang di Indonesia, perusahaan-perusahaan tersebut hancur. Sapi-sapi yang masih hidup diselamatkan dan dipelihara oleh penduduk sekitarnya. Pada saat itulah peternakan sapi perah dijadikan masyarakat sebagai usaha keluarga. Pemeliharaan sapi ini kemudian digunakan sebagai pendukung usaha pertanian.

Pada bulan Nopember 1949, berdirilah wadah koperasi dengan nama Gabungan Petani, Peternak Sapi Indonesia Pangalengan ( GAPPSIP ) dengan maksud meningkatkan populasi ternak sapi perah dan meningkatkan pendapatan peternak sapi perah. Sejak tahun 1949 sampai dengan 1962 GAPPSIP memberikan sumbangan besar dalam pengembangan usaha peternakan sapi perah di Pangalengan. Usaha sapi perah yang pada awalnya sebagai usaha sampingan akhirnya tumbuh dan berkembang dengan cepat. Situasi politik dan ekonomi Indonesia yang memburuk pada awal tahun 1960 berpengaruh negatif terhadap perkembangan GAPPSIP. Kondisi ini diperburuk dengan semakin menguatnya posisi para tengkulak dalam pemasaran susu. Pada tahun 1961 GAPPSIP tidak mampu lagi menghadapi keadaan ini sehingga pada tahun 1963 menghentikan segala aktivitrasnya dan selanjutnua tata niaga susu di Pangalengan diambil alih oleh para tengkulak.

Para peternak adalah pihak yang paling banyak dirugikan dengan hancurnya GAPPSIP mereka terpaksa harus menjual susunya kepada para tengkulak dengan harga yang sangat rendah yaitu Rp. 9,- per liter. Sementara itu para tengkulak menjual susu dengan harga Rp. 60,- per liter kepada konsumen. Kondisi ini berlangsung sepanjang tahun 1963-1968.

Menyadari buruknya keadaan tersebut, maka disepakati untuk mendirikan lagi wadah koperasi. Kesepakatan ini didorong oleh adanya kesadaran kepemilikan sapi perah dalam skala kecil, jauhnya ke tempat pemasaran dan sifat susu yang mudah rusak. Bersamaan dimulainya REPELITA I pada tanggal 1 April 1969 berdirilah KPBS Pangalengan dengan pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung, bantuan Gubernur Jawa Barat, Dirjen Peternakan, dan UNICEF. Pada tanggal 8 Juli 1969 KPBS memperoleh Hak Badan Hukum No.4353/BH/IX-18, yang kemudian pada tanggal 31 Desember 1969 diperbaharui menjadi No. 4353 A/BH/DK-X/20. Tugas pokok yang diemban oleh KPBS pada mulanya adalah sebagai berikut :

  1. Memulihkan iklim perkoperasian dalam bidang peternakan di Bandung Selatan
  2. Ikut serta dalam usaha peningkatan pendapatan peternak sapi perah bersama pemerintah.
  3. Berperan aktif dalam melaksanakan program pemerintah yang digariskan dalam pola pengembangan lima tahun.

Sejak berdirinya KPBS, masyarakat Pangalengan khususnya anggota KPBS telah melakukan uji coba pemanfaatan produk susu yang tidak terjual dengan memprosesnya menjadi beberapa produk ( karamel, dodol susu, kerupuk susu dan tahu susu ) yang sifatnya tidak komersil. Baru kemudian pada tahun 1986 beberapa industriawan rumah tangga yang juga anggota KPBS dibina dan mendapat bimbingan dari KPBS, Dinas Peternakan Kecamatan Pangalengan termasuk pembinaan dari Departemen Perindustrian Kabupaten Bandung untuk lebih meningkatkan mutu produk industri rumah tangga tersebut. Bantuan yang dimaksud berupa penyediaan bahan baku susu dan bahan tambahan sesuai dengan permintaan industri rumah tangga, Pembinaan manajemen usaha industri rumah tangga, membantu pemasaran produk industri rumah tangga, dan membantu promosi produk industri rumah tangga melalui pameran yang diadakan pada tingkat kabupaten, kotamadya sampai pada tingkat nasional.

KPBS terus mengalami perkembangan seiring dengan jumlah peternak yang semakin banyak yaitu dengan berdirinya Milk Treatment ( MI ) Goha di wilayah timur. MT yang terletak di Goha ini berdiri pada tahun 1998 dimaksudkan untuk mengantisipasi kerusakan susu segar dari para peternak sapi di wilayah timur karena akibat perjalanan jauh mobil tangki yang ditempuh. Kerusakan bisa disebabkan jalan rusak dan berdebu sehingga menyebabkan terkontaminasinya susus segar oleh mikroorganisme dari tangki.

Tidak ada komentar: